Breaking News :

logo

Review Download

Latest Post

cerpen dyla

Minggu, 25 Mei 2014 | 1komentar

NADIA

Pagi itu sekitar jam 06.00 saat aku sedang mencuci motor tua peninggalan almarhum ayahku, aku melihat Nadia anak tetanggaku yang sedang tergesa-gesa membuka gembok pagar rumahnya, nampaknya Nadia sedang sakit ketika aku perhatikan wajahnya terlihat pucat, dan bibirnya gemetar. Tapi kalau dia sakit kenapa dia tidak memakai mantel atau jaket tebal, dia malahan memakai jeans belel dengan T-shirt bertuliskan “love is a game” berwarna baby pink, aku coba menanyakan keadaanya.
“kamu dari mana Nad, kok Nampak pucat?” kataku.
Tapi Nadia tak menjawab pertanyaanku, dia membuka pintu pagar dan bergegas masuk rumah, Nadia memang sering tinggal dirumah sendirian, orang tuanya sibuk mengurus perusahaan mereka dan sering pergi keluar kota, terkadang ibuku sering mengajak dia menginap dirumahku dan tidur bersama kakaku yang cewe, tapi kerap kali pula Nadia menolak dengan alasan tidak mau merepotkan ibuku. Dulu waktu aku dan Nadia masih berteman baik Nadia sering berkunjung kerumahku, tapi itu dulu sebelum Nadia mengenal teman-temannya yang gaul dan borju, sekarang Nadia sudah berubah setelah mengenal mereka, Nadia bahkan sering keluar malam dan pulang pagi. Dia sering jadi omongan para tetangga, tapi Nadia tidak perduli dan cuek-cuek saja, ibu dan ayahnya sering menegurnya tapi Nadia berontak dan sering sekali terjadi pertengkaran hebat antara Nadia dan orangtuanya. Bahkan aku pernah mendengar mereka bertengkar dari jendela kamarku, ayah Nadia mencerca Nadia dengan kata-kata yang tak pantas didengar.
Kringgg…..krriiiiiinnggggggg……kriiinngggg….
Bel tanda pelajaran usai berbunyi, seakan memberikan tanda bahwa waktunya santai dirumah, murid-murid berhamburan keluar kelas sambil meneteng tas menuju rumah mereka, dan aku sengaja berjalan dengan santai keluar kelas, aku ingin menengok kelas Nadia, biasanya hari selasa dikelas Nadia ada pelajaran tambahan, kalo dikelas aku hari senin setelah pulang sekolah. Kelas aku dan Kelas Nadia terpisah beberapa kelas saja, setelah aku melewati kelas Nadia aku melihat bapak Mamad yang dijuluki bapa intimidasi oleh murid-murid sedang menjelaskan pelajaran Matematika dengan tegang dan serius, tapi aku tak melihat Nadia, bangku yang biasa Nadia duduki hari ini kosong, aku mulai melirik ke penjuru kelas dengan hati-hati agar bapak Mamat tidak melihat gerak-gerikku, Tapi hasilnya nihil Nadia tidak duduk disudut mana pun. Mungkin Nadia benar-benar sakit.
            Kemudian aku berjalan meninggalkan kelas Nadia, sesampai aku diteras sekolah ternyata hujan turun membasahi bumi, dan aku kemilih untuk berteduh dulu diteras sekolah sambil memandang tiap tetesan hujan pikiranku melayang, memikirkan saat-saat aku masih bersahabat baik dengan Nadia. Aku masih ingat saat Nadia memukul anjing tetangga komplek sebelah dengan kayu karena anjing itu mengejarku sewktu aku pulang dari sekolah, dan mulai hari itu kami berteman dan sering bermain bersama, Nadia teman pertama aku sewaktu SMP dulu saat teman-teman aku yang lain mengejekku dan mengata-ngatai aku cupu, namun Nadia malah dengan santai mau berteman dengan aku, dan mengajari aku membuat layang-layang, untuk pertama kalinya aku bisa membuat layang-layang hari itu. Nadia anak perempuan yang bisa aku bilang tomboy dan cuek dengan penampilan, aku pernah melihat Nadia bermain bola dengan anak laki-laki dalam keadaan masih memakai baju piyama.
            “kamu kenapa melamun jonn..?” tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku. Ternyata itu adalah suara Rania salah satu anak culun yang ada disekolah ini, dan Rania ini satu kelas sama Nadia. “eh, kamu Ra..hhmmphh…Nadia hari ini engga masuk sekolah ya?”. Mumpung ada teman satu kelas Nadia sekalian aja aku tanyain, meskipun aku tau kalau Rania akan menjawab dengan jawaban lebih banyak tidak tau ketimbang taunya. “bukan Cuma hari ini Jon, Nadia tidak masuk sekolah tapi sudah satu minggu dia absen dan tidak ada kabarnya” kata Rania. Ucapan Rania mengagetkan aku sebenarnya apa yang terjadi dengan Nadia, semenjak dia berteman dengan “genk cubietus”, sebuah genk anak-anak gaul yang hobby menghambur-hamburkan uang orang tua mereka untuk hal-hal yang sama sekali tidak penting, tiap malam kerjaannya clubbing di discotik bintang lima, dan teman-teman seperti itu lah yang dijadikan Nadia sahabatnya.
            Setelah berbasa-basi sedikit dengan Rania, aku pamit untuk pulang duluan. Sambil mengendarai motorku rintik-rintik hujan kecil menetes membasahi kaca helmku. Aku masih berfikir didalam benakku kenapa Nadia tidak kesekolah selama satu minggu. Dan aku putuskan hari ini aku akan kerumah Nadia untuk mengetahui kondisinya, meskipun resikonya dia akan mengusir aku sama kaya seperti dulu. Aku bahkan tidak pernah lupa kata-kata yang Nadia ucapkan waktu aku kerumahnya untuk menengoknya yang sedang sakit, “ngapain loe ke rumah gue?dasar anak culun gak gaul,keluar loe sekarang” kalau kata-kata itu aku ingat rasanya bulu kudukku meremang. Aku tidak mengerti sebenarnya apa salah aku?, apa hanya karna aku culun dengan kacamata besar dan tebal? Mungkin Nadia malu berteman dengan aku, aku sadar semua kekurangan aku dan mungkin Nadia pikir aku tidak selevel dengan Nadia yang cantik.
            Tanpa aku sadari aku sudah memasuki gerbang komplek perumahanku setelah tikungan, aku akan sampai dirumah, namun tiba-tiba sebuah mobil polisi dengan sirine yang mengaum-ngaum memecah keheningan jalanan di sekitar komplek rumahku, dengan kecepatan tinggi mobil polisi itu memasuki tikungan menuju rumahku. Karna rasa penasaran aku pun ikut memacu motor tuaku memasuki tikungan rumahku.
            Dan betapa terkejutnya aku melihat kenyataan ini, ternyata mobil polisi itu berhenti dirumah Nadia yang bersampingan dengan rumahku, tak hanya mobil polisi tetapi juga ambulance juga berhenti dan parkir dihalaman rumahku, rumah Nadia digerumungi oleh tetangga yang penasaran dengan apa yang terjadi disana, kemudian aku melihat ibuku yang sedang berbicara dengan polisi, aku melihat raut wajah ibu nampak kebingungan. Dengan cepat aku parkirkan motorku di samping rumah dan berlari kerumah Nadia. “jam berapa ibu ke rumah Nadia?” kata seorang polisi kepada ibu, kemudian ibu menjawab “jam 12 siang pak, saat saya ingin mengantarkan makanan untuk Nadia, karna dia cuma sendiri dirumah” kata ibu menjawab pertanyaan polisi. Tidak beberapa lama kemudian aku melihat petugas rumah sakit membawa tandu yang berisi tubuh yang di tutup dengan sprey berwarna putih. Ibu memelukku sambil menangis, saat itu aku masih kebingungan sebenarnya apa yang sedang terjadi, sesaat berlalu ambulance yang membawa mayat itu pergi meninggalkan komplek kami menuju rumah sakit.
            Keramaian dirumah Nadia mulai sepi saat mobil ambulance dan mobil polisi meninggalkan rumah Nadia, dan aku membawa ibu pulang untuk menenangkan kondisi ibu. Setelah ibu mulai tenang ibu bercerita, dan betapa terkejutnya aku saat mendengar semua cerita ibu yang siang itu ingin mengantarkan sub jagung untuk Nadia, dan sewaktu mengetuk pintu ternyata tidak ada sahutan dari dalam, dan saat itu ibu memberanikan diri untuk membuka pintu rumah Nadia ternya tidak dikunci. Ibu berfikir bahwa Nadia sedang tidur dikamar dan ibu bermaksud untuk membangunkan Nadia. Ketika ibu membuka kamar Nadia, ibu melihat Nadia membujur kaku dengan busa dibagian mulut, di sekitar Nadia berhamburan obat-obatan, segeralah ibu menelpon polisi.
            Keesokan harinya pukul 07.00 iring-iringan ambulance datang kembali, kali ini ambulan datang dengan iringan mobil mewah yang aku bisa tebak itu adalah mobil keluarga Nadia. Nampak sebuah peti berwarna merah marun diturunkan dari mobil ambulace, di sertai tangisan histeris seorang wanita yang kira-kira berusia 35 tahun, itu adalah ibu Nadia. Aku, ibu, dan kakaku bergegas kerumah duka untuk mengucapkan rasa duka, ibu Nadia dalam tangisnya bercerita bahwa Nadia OD (over dosis) karna mengonsumsi obat tidur, selain itu juga hasil outopsi membuktikan bahwa Nadia mengonsumsi Narkoba. Ibu Nadia meminta kami untuk menyembunyikan kematian Nadia yang bunuh diri tapi aku rasa semua tetangga tau melihat kenyataan yang ada. Para tetangga, teman-teman sekolah Nadia mulai berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir pada Nadia. Pukul 14.00 jasad Nadia dimakamkan dipemakaman umum dikomplek kami. Suasana pekat duka dan haru melepas kepergian Nadia, bahkan ibu Nadia sampai jatuh pingsan saat jasad Nadia dimasukkan kedalam tanah,.
             Sehari setelah pemakaman Nadia, keluarga  Nadia memutuskan pindah rumah dan menjual rumah mereka dengan alasan, mereka ingin mengganti suasana baru, ibu Nadia juga kerap kali merasa Nadia berjalan-jalan dirumah mereka, hal itu membuat ibu Nadia kembali bersedih. Kematian Nadia secara tiba-tiba memang membuat semua orang yang mengenal Nadia terkejut, kematian Nadia yang terbilang cukup muda membuatku semakin sadar betapa bermaknanya hidup ini, jika hanya untuk hura-hura. Perjalanan hidup masih panjang bahkan jalan kesuksesan dalam hidup belum aku tapaki. Nadia akan tetap aku kenang sebagai sosok teman dimasa kecil yang istimewa, meskipun ketika kami sama-sama besar Nadia menjauhiku, tapi aku tetap menganggap dia temanku. Sebenarnya Nadia adalah anak yang baik hanya saja pergaulan membuat dia tersesat dan tak bisa menemukan jalannya kembali.
Nadia terima kasih atas kebaikanmu dimasa kecil kita…
            Semoga kamu damai disana….

Continue Reading

foto

| 2komentar

foto sebelum memintaskan musikalisasi puisi di aula PSB dalam rangka memperingati hari ibu




 foto di pemintasan lomba baca puisi yang di adakan pondok huruf sastra Auditorium

                     





foto saat turun aksi turun jalan pada peringatan hari narkoba




 persiapan pentas lomba musikalisasi puisi yang di adakan oleh
 Arif Rahman dan Reza Rahim dalam launching antologi puisi pipikat benua

 foto saat workshop anggota baru pondok huruf sastra di mandiangin 2012
foto  penerimaan anggota baru pondok huruf satra 2014



menghadiri undangan poetry in ektion minggu raya banjarbaru
dengan tema (kerbau kalang, kering air matanya)
menghadiri poetry in action banjarbaru 31 mei 2014






 





Continue Reading

Kumpulan Puisi Cinta Fudzah

Minggu, 18 Mei 2014 | 2komentar


BEGINIKAH CINTA ?
Senyum mu mencuri sekeping hati ku yang tak pernah tersentuh oleh siapapun.
Hingga tak sadar begitu bodohnya aku yang membiarkan kau membawanya pergi.
Berlalau layaknya angin, begitulah kau acuhkan aku tanpa peduli lagi.
Benci rindu cemburu bercampur jadi satu, saat ku lihat kau berjalan dengan kekasih baru.
Berpaling dari mu, hanya itu yang bisa ku lakukan tuk menghibur sedih ku.
Dalam pertengahan jalan, datang sosok baru mengobati luka ku.
Semuanya benar-benar indah, dan ku tak peduli lagi dengan diri mu.
Tapi apa yang terjadi, kau datang kembali dengan beribu alasan tanpa ku pahami.
Dengan rasa yang kau tinggalkan, rasa itu ingin kembali dalam pelukan mu.
Terdengar bisik dari relung hati, kau memang tak pantas untuk ku.


BAYANG SEMU

Indah malam penuh bintang, perlahan mata tertutup berteman bayang mu.
Hangat mentari datang menyapa, bayang mu kembali menyadarkan ku.
Semua tentang bayang mu, malam ku, siang ku, diam ku, bahkan senyum ku.
Bagi ku bayang mu segalanya, bayang yang tak bisa menjelaskan siapa diri mu.
Segalanya bercerita akan bayang mu, dan ku tak mempunyai alasan untuk semua itu.
Bertemu bayang mu, membuat jiwa ku tunduk ingin selalu tinggal disisi mu.
Kebersamaan yang tak bisa ku hindari dan tak bisa ku pinta saat rindu pada bayang mu.
Tak ada pilihan tuk menjauh dari bayang mu, dan tak ada celah tuk tinggal bersama bayang mu.
Tak pernah terduga tak pernah diharapkan, bertemu dan berjalan dengan bayang mu.
Ingin ku harap ku selalu dekat bersama indah bayang mu tuk menepis dahaga ku.
Bayang mu jiwa ku hanya bisa saling merindu, dan selamanya tak akan pernah bisa bersatu.

Kasih ...
Ku bukanlah orang yang pandai berkata-kata
Tapi, ku mencoba menumpahkan rasa yang ada dalam sebuah kata
Untaian demi untaian kujalin , megiringi geritik hati
Rangkaian keindahan kujadikan penyembuhnya



Kasih ...
Meski sekarang kita jauh
Kenangan kita tetap abadi dibenakku
Meski sekarang senda gurau tidak pernah lagi kurasakan
Suaramu tetap bergema ditelingaku
Meski begitu, kuharap namaku selalu ada dihatimu

Kasih ...
Akankah kau lihat langit malam ini
Ku ukir rindu diantara bintang-bintang
Ku lukis wajahmu diantara awan-awan
Ku kirim angin dengan belai ketulusan hatimu
Akankah kau merasakan kehadirannya

Kasih ...
Pernahkah kau berpikir untuk mendekapku kembali
Pernahkah kau menanti untuk bersamaku lagi
Tidakkah kau takut ku tidak kembali
Tidakkah kau mengejar ketika ku berlari

Kasih ...
Jauh sebelum kau pergi
Kubuat harap untuk selalu bersamamu
Kujadikan mimpi menjadi impian
Kubuat impian menjadi kenyataan

Kasih ...
Mungkin ku hanya bintang kecil
Tenggelam diantara cahaya-cahaya
Tidakkah kau berpaling menengok keindahannya
Ketika cahaya menutup matanya
Sang bintang kembali dengan pijarnya

Senin, 22 Oktober 2012




KELABU BERSELIMUT

Kala sang surya keluar dari persembunyiannya
Hawa dingin lenyap bersama pancaran kehangatannya
Kini pelangi terlihat pada sepasang bola mata
Kedipannya membuat warna-warna menghias paginya

Tidakkah kau kira
Kala pelangi telah ia miliki
Kelabu telah menyelimuti hatinya
Kini beku merajai asanya

Perjalanan waktu terus melangkah
Penafsiran makna membuat pertikaian
Hati yang tertutupi oleh keeogisan
Telah memagari kehangatan

Kebersamaan tanpa ada arti
Kepusangan berterbangan memenuhi
Kesibukan membuat mata terhalangi
Keresahan terus menghantui

Sang ahli datang mengingatkan
Kala yang satu menyembunyikan
Yang satu menutupi dengan keindahan
Mata berbinar penuh keharuan

Hingga keduanya saling mengerti
Kenangan baru mereka buat sebagai penghibur hati
Kebersamaan kini semakin berarti
Kepekaan kembali menggerogoti

Rabu, 21 Nopember 2012


Dari sekian kalinya
Kerinduan mengalir membasahi pipiku
Sakit bersengatan dalam setiap darah yang mengalir diseluruh tubuhku
Perih terus menusuk pada tiap kali detak jantungku

Keyakinan akan kesetiaanmu
Membuatku ingin tinggal dalam perangkap ini
Meski kulihat bayang wajahnya mengajakku untuk beranjak
Hatiku tetapdiam menanti dalam penderitaan

Lembaran baru kini di depanku
Sa’at mulutku diam meratap
Hatiku tidak bisa membohongi
Ia berteriak penuh histeris

Hatimu telah mendengarnya
Tapi kau bagi rasa itu untuknya
Kuhanya tersenyum dalam kepahitan yang ada
Dan sebisaku bertahan dengan ketulusanku

Meski begitu
Kau tidak pernah mau untuk mengerti
Malah kau terus tambah luka dihatiku
Ku juga tidak mengerti ia terus memaafkanmu

Senin, 26 Nopember 2012


Tiba malam menghampiri
Sejenak mereka melupakan pagi
Tapi bagiku tidak semudah itu
Ku bagai bayang bagi diriku

Dimana kau berada
Kemana kau pergi
Kau terus ada disisiku
Dibelakang, disamping, bahkan didepanku

Setiap kali kucoba melupakanmu
Saat itu sebuah kenangan kembali mengingatkanku
Setiap kali kucoba tidak melihatmu
Saat itu kau malah berlalu dihadapanku

Haruskah ku benar-benar melenyapkanmu
Agar kubisa menghapus semua tentangmu
Harusnya ku tidak mengenal dirimu
Apalagi kini, ia sudah menggerumuniku

Selasa, 27 Nopember 2012


Sadarku, ku duduk sendiri
Kurasakan kau masih ada bersamaku
Kumasih tidak percaya dengan kesendirianku

Hari ini ...
Dimana saat pertama kau menghampiriku
Ku juga tidak percaya dengan keberadaanmu

Tanpa pernah kau sadari
Banyak kenangan kita lukiskan
Meski begitu singkat, tapi itu sangat melekat

Hari ini ...
Kurasakan kau hadir kembali
Saat mataku belum bisa melihatmu
Jiwaku suda merasakan keberadaanmu

Kini kau benar-benar ada didekatku
Ku merasa bermimpi dalam sadarku
Hari-hari terasa kembali lagi
Ketika kau dan aku merangkainya

Apa aku yang merupakannya
Kalau kau ada karenaku ada
Apa aku tidak menyadarinya
Keberadaanku membuatmu ada

Saat usiaku dimakan waktu
Kala aku melupakan hari-hari ibu
Akankah kubisa melawitnya bersamamu lagi
Apa kau juga merindukan waktu itu kembali

Kini kau menemukan jalanmu
Kau tidak perlu takut menghadipnya
Karenaku selalu bersama disetiap langkahmu
Saat kau tidak bisa memelukku lagi, keabadian telah kita miliki

Jum’at, 23 Nopember 2012


Dingin malam menusuk qalbu
Amarah cinta tidak bisa menghangatkanku
Kerinduan bercampur kebencian
Meronta hingga jiwaku tidak berdaya

Ketulusan hatiku padamu
Tidak pernah kau dengar
Ketakutanku akan kehilanganmu
Tidak pernah kau hiraukan

Ku tersenyum
Saat air mata tidak tertahan lagi
Ku tidak ingin mengingatnya
Tapi ku takut ia lenyap

Keberadaanmu di depanku
Membuat ragaku diam membisu
Tidak sepatah kata dapat ku lukiskan
Tidak seindah warna bisa menggambarkan

Saat kau raib dari hadapanku
Jiwaku terus mengiringi langkahmu
Kutertunduk melihat jejakmu
Meski jiwamu tetap berdiri memandangku

Sabtu, 24 Nopember 2012

GERIMIS

Diatas selembar kertas
Kutunangkan kata sebagai ungkapan hati
Dalam keheningan sore ini
Kudengar detak jantung mengiringi

Diatas selembar kertas
Kulukiskan awan hitam menghampiri
Dalam kelam ia menjatuhi
Kurasa gerimis membelai diri

Diatas selembar kertas
Kugambarkan rasa sepiku
Dalam kesendirianku
Gerimis telah menemaniku

Diatas selembar kertas
Gerimis berbisik ditelingaku
 Dengan sentuhan lembutnya
Gerimis membuat sejuk hatiku

Diatas selembar kertas
Kulihat titah hitam menari
Dalam setiap tariannya
Kutersenyum dibuatnya

Minggu, 23 Nopember 2012

PENCARIAN

Birunya langit
Tingginya gunung
Luasnya samudera
Membuat hati bergeritik penuh tanya

Begitu indah
Begitu menyejukkan
Begitu mengagumkan
Semuanya saling menyempurnakan

Hitam-putih perjalanan kulewati
Kumengerti pada langkahku ada engkau
Kulewati setiap detik waktu pada takdirku
Menyadarkanku akan kembali pada pangkuanmu

Dalam setiap sujudku
Kumohon ampun atas semua dosaku
Kuberharap kau memberikan jalan padaku
Untuk bisa kembali dalam pangkuanmu

Kucari engkau disetiap hembus nafasku
Ku benar-benar rindu untuk bersamamu
Berikanlah petunjuk pada setiap jalan yang kulewati
Hingga ku benar-benar berada pada jalanmu
Senin, 26 Nopember 2012
MALAM TERUS BERLALU

Pagi kini kembali
Malam masih terlihat olehku
Saatku berbaring menatap bintang
Bintang itu beradu menampakkan gemerlapnya

Malam itu ...
Mengingatkanku pada dirimu
Kau persis seperti bintang itu

Saat ia menemani malamku
Keindahan benda-benda kurasa
Keindahannya telah mengikatku

Mataku terus terjaga
Malam semakin larut
Keindahan jelas kurasa

Perlahan kau menghilang
Kumasih mau bersamamu
Kau tetap berpaling meninggalkan

Kau tau kesedihan yang kini ada
Terpancar penyesalan dari matamu
Ku kecewa dengan pancaran itu
Senin, 19 Nopember 2012
GELOMBANG ASMARA

Disaat janji membuat luka
Sakit dan perih yang kurasa
Perjalanan yang kita lewati bersama
Tidak pernah surut dalam ingatan kita

Kerinduan telah membuat pergi jiwaku
Kebersamaan berbuah penyesalan yang mendalam
Jeritan hati penuh penderitaan lara
Serpihan-serpihan luka penuh kebencian

Kasih sayang yang lama terpendam
Membuat ragaku terkubur karenanya
Akankah aku atau rasaku yang salah
Ataukah keadaan yang salah

Kadang hatiku bertanya pada pikirku
Inikah yang namanya kasih sayang
Inikah namanya kekasih hati
Inikah yang namanya cinta sejati

Semuanya hanyalah keindaha semu
Ku terperangkap pada sebuah bayang nyata
Berlari tanpa henti namun tiada arti
Mungkinkah ini hakikat yang sebenarnya

Rabu, 21 Nopember 2012


 GELOMBANG ASMARA

Disaat janji membuat luka...
Sakit dan perih yang terasa...
Perjalanan yang kita lewati bersama...
Tidak pernah surut dalam ingatan kita...

Kerinduan telah membawa pergi jiwa ku...
Kebersamaan berbuah penyesalan yang mendalam...
Jeritan hati penuh penderitaan lara...
Serpihan-serpihan luka penuh kebencian...

Kasih sayang yang lama terpendam...
Membuat raga ku terkubur karenanya...
Akankah aku atau rasa ku yang salah...
Ataukah keadaan yang salah...

Kadang hati ku bertanya pada pikir ku...
Inikah yang namanya kasih sayang...
Inikah yang namanya kekasih hati...
Inikah yang namanya cinta sejati...

Semuanya hanyalah keindahan semu...
Ku terperangkap dalam sebuah bayang nyata...
Berlari tanpa henti namun tiada arti...
Mungkinkah ini hakikat yang sebenarnya...

Banjarmasin, 2013

JADIKAN AKU MERPATIMU

Baru ku sadari
Cinta tumbuh dengan bunga yang merekah bersama indahmu
Ku nikmati semerbakmu
Di setiap nafasku
Ku biarkan indahmu
Berdetak membelai jantungku

Terbang entah ke mana?
Mencari warna menepis sepi,
Kembali ku  dapati kau
Menghiasi bibir ini,
Ku pandangi dengan harap kau beri cahaya hati.

Lihatlah dalam mata ini !
Kekuatan cinta yang kini menepi
Mengharuskan semuanya berkesudahan

Banjarmasin 2013

Continue Reading

Kumpulan Puisi Resti Frahesty

| 1komentar




Sepi bagaikan selimut yang tak bertepi
Kegundahan bagai selimut yang tak sampai
Menutupi bagian yang kosong
Namun tak menutupi bagian yang tak terlihat

Canda tawa yang sekejap berlalu
Tak bisa menutupi gundahnya jiwa sanubari
Keheningan yang mencakap bagaikan jarum yang merambat keubun-ubun
Sampai menjalar keurat nadi

Disini aku sendiri meratapi sunyinya duniaku
Berdiri tegak dimana suatu saat akan layu
Harapan yang terus ada
Namun tangan tak ingin menggapainya



Saat aku melihat dirinya
Kutatap sejenak, dengan senyuman kecil
Sedikit terbayang akan kisah dahulu
Kisah yang membuat diri ini bangkit berdiri tegak

Akankah pertemuan ini menjadi awal kisah yang lalu
Bisakah kau buat lagi sedikit simponi yang telah kau mainkan
Syair yang kau bisikan sehingga aku bisa menjadi diriku yang sebnarnya

Katakanlah padaku jika kau mampu
Katakanlah padaku jika kau tidak bisa
Jangan kau hanya diam tanpa kata
Jangan kau hanya tersenyum kecil dan seolah memberi harapan



Ketika bulan tak lagi terang
Mataharipun tak terlihat sinarnya
Pancaran air tak lagi menyilaukan
Bahkan hijaunya pegunungan tak sehijau yang kemarin

Akankah semuanya akan terhenti, kaku dan diam
Tanpa gerak tanpa lantunan yang merdu
Dan simponi yang bergoyang
Inikah akhir cerita

Cerita yang ingin kulanjutkan
Namun terhenti terhalang oleh takdir yang telah dijanjikan
Terbujur kaku, hanya ditemani selembar kain putih
Dan kapas yang menjadi penyumbat
Dibanyak lubang kehidupan

Inilah nasibku
Inilah takdirku
Semuanya berakhir sampai disini



Kenapa, hariku kabut hari ini
Kenapa, senyum yang selalu kulihat cerah
Tiba-tiba kaku hari ini
Ada apa gerangan yang terjadi padamu

Aku kangen kamu yang dulu
Candamu, kata-katamu, senyummu
Semangatmu, motivasimu
Ku ingin yang dulu

Ku ingin bisa selalu bersamamu
Didekatmu, disampingmu, selalu ...



Kemelut kejenuhan yang beda lara
Menyakitkan, bahkan membunuh jiwa yang tentram
Melekat pohon yang tumbang
Mengikat pada rehap dahan yang lunglai

Kapas kabut yang berterbangan di udara
Seakan terkapar diruntuhi ranting yang berguguran
Ketakutan akan sesuatu yang terjadi
Menjadikan aku sangat takut
Bahkan sangat takut, ketika aku melihat
Badai yang berputar didepan mataku



Terurai kisah yang dulu
Menjadi sebongkah kerinduan
Hati seakan terlihat terang
Walaupun didalamnya sakit tiada henti-hentinya
Terus menyesak, terus dan terus
Ingin diakhiri tak tau bagaimana untuk memulai
Membuang semua kenangan yang lalu

Sepenggal memori manis yang pernah melekat
Walaupun perasaan ini tak tentu
Tapi aku yakin aku bisa melakukannya
Entah kapan dan dimana
Aku akan mengungkapkannya
Unek-unek yang begitu pengat ini

Continue Reading

Kumpulan Puisi Rindu Rizka Aziana

| 0 komentar


LIRIH KITA

La la la la laaaaaaaa...

Getaran hati merauh merdu dalam lirik kita
Gedebak gedebuk jantung terdampar dalam kerinduan lara
rindu akan semua gaya tubuh yang  mempesona
melayangkan pandangan mata jauh kebelakang
butiran –butiran itu ikut serta dalam perjalanan kita
dulu ,,
itulah diri kita
sekarang ,,
inilah diri kita
lalu, angin pun berbisik tajam pada dedaunan nan hijau
apa yang akan terjadi di masa depan ?’
burung-burung hantu ikut riuh dalam pertanyaan angin yang terlukis tajam pada kegelapan malam seakan cahaya rembulan lenyap di makan awan dan bintang-bintang menjatuhkan diri dalam ganasnya ombak yang menghantam pantai
aku , kamu, kita bersama

Banjarmasin, 30 November 2012


Kala mentari berada di pucuk kepala
Denyut jantung tak berhenti dari peredaran
Keringat mengalir bak sungai yang deras dengan arus rintang tajam

Geletir hati menyanyi-nyanyi meiring nada-nada cinta
Dahsyat candu merasuk seluruh persendian tubuh
Ringai senyum mu indah begitu dalam
Saudaraku ,,
tahukah kamu ?
tidak ada yang bisa menggantikan keindahan itu
Bahkan ,
Di benakku ini terlayang tentang mu seluruh isi bumi tak kan bisa terganti
Saudaraku,,
Tahukah kamu ?
Raungan jiwa menggebu-gebu ketika kau jauh
Kadang terdengar rusuh pilu
Namun, tapak-tapak langkah kita terdengar lebih menggema dalam ilaian jalan setapak
Menuju cinta dan cita

Banjarmasin,1 Desember 2012



Banjarmasin 14 Desember 2012
Titik-titik mendekati kesempurnaan
Berjalan dengan perkasanya
 Terhalang oleh garis melintang yang sangat terjal tajam
Jauh terbentang indah

Harapan pun terurai sangat merdu
Semerdu angin yang menggoyangkan rumput-rumput di pegunungan
Jarak pun tercipta begitu dahsyat dalam butiran-butiran embun yang melekat pada dedaunan
Waktu terukir di antara keduanya
Sempurna itu telah tinggal satu langkah lagi dalam gumpalan-gumpalan kerinduan
Namun ,,,
Setelah lama bertahan dalam harapan
Secercah cahaya itu menghampiri sedikit demi sedikit
Semangat mulai menggelora lebih besar lagi
Detak degup langkah menjadi ringan
Sempurna ,,,
Itu lah yang di tunggu dan akhirnya di gapai dengan banyak kebahagiaan jiwa yang terbalut kelabu



Semu,,
keindahan itu tertutupi oleh semunya angin
mata pun tak mampu menerubus masuk ke dalamnya
 bahkan panca indera pun lemah lunglai di buat kesemuaan ini ,,,
titisan air hujan telah mampu meluluhkan batu
namun ,,
rasa semu ini sangat kokoh bersarang dalam tubuh
semu pun buat benak ini lelah dalam kebisuan
telah lama menunggu mengharap terlonta-lonta akhirnya kesemuaan itu pun memudar tenggelam dalam ombak kebahagian yang begitu indah

ternyata ,,,
kesemuaan itu indah dalam jarak dan waktu


Kenapa ..
Kata-kata itu terbias bak gelombang laut
 yang menghempaskan diri ke bibir pantai
gelerak-gelerak pasir terhambur dalam ruang pancar mentari
lalu,,
gerembolan  karang-karang ikut bernyanyi syahdu beirama
rinai hujan pun mulai menyentuh kebiruan air yang terapung
gelombang-gelombang kecil tertawa riang dengan ikan-ikan yang menari-nari
Greekkkk,,,
Terbangun dari sadarku
Terdiam sejenak dalam kekaguman yang tercipta
Ya Rabbi
Tiada kata yang pantas terucap
Kala mata ini terpana akan ciptaMu
Subhanallah ,,
Tulus ikhlas dalam hari-hariku

Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Pondok Huruf Sastra
Copyright © 2013. Pondok Huruf Sastra - All Rights Reserved
Template Modify by Ahmad Riduan
Proudly powered by Blogger