Breaking News :

logo

Home » » cerpen dyla

cerpen dyla

Minggu, 25 Mei 2014 | 1komentar

NADIA

Pagi itu sekitar jam 06.00 saat aku sedang mencuci motor tua peninggalan almarhum ayahku, aku melihat Nadia anak tetanggaku yang sedang tergesa-gesa membuka gembok pagar rumahnya, nampaknya Nadia sedang sakit ketika aku perhatikan wajahnya terlihat pucat, dan bibirnya gemetar. Tapi kalau dia sakit kenapa dia tidak memakai mantel atau jaket tebal, dia malahan memakai jeans belel dengan T-shirt bertuliskan “love is a game” berwarna baby pink, aku coba menanyakan keadaanya.
“kamu dari mana Nad, kok Nampak pucat?” kataku.
Tapi Nadia tak menjawab pertanyaanku, dia membuka pintu pagar dan bergegas masuk rumah, Nadia memang sering tinggal dirumah sendirian, orang tuanya sibuk mengurus perusahaan mereka dan sering pergi keluar kota, terkadang ibuku sering mengajak dia menginap dirumahku dan tidur bersama kakaku yang cewe, tapi kerap kali pula Nadia menolak dengan alasan tidak mau merepotkan ibuku. Dulu waktu aku dan Nadia masih berteman baik Nadia sering berkunjung kerumahku, tapi itu dulu sebelum Nadia mengenal teman-temannya yang gaul dan borju, sekarang Nadia sudah berubah setelah mengenal mereka, Nadia bahkan sering keluar malam dan pulang pagi. Dia sering jadi omongan para tetangga, tapi Nadia tidak perduli dan cuek-cuek saja, ibu dan ayahnya sering menegurnya tapi Nadia berontak dan sering sekali terjadi pertengkaran hebat antara Nadia dan orangtuanya. Bahkan aku pernah mendengar mereka bertengkar dari jendela kamarku, ayah Nadia mencerca Nadia dengan kata-kata yang tak pantas didengar.
Kringgg…..krriiiiiinnggggggg……kriiinngggg….
Bel tanda pelajaran usai berbunyi, seakan memberikan tanda bahwa waktunya santai dirumah, murid-murid berhamburan keluar kelas sambil meneteng tas menuju rumah mereka, dan aku sengaja berjalan dengan santai keluar kelas, aku ingin menengok kelas Nadia, biasanya hari selasa dikelas Nadia ada pelajaran tambahan, kalo dikelas aku hari senin setelah pulang sekolah. Kelas aku dan Kelas Nadia terpisah beberapa kelas saja, setelah aku melewati kelas Nadia aku melihat bapak Mamad yang dijuluki bapa intimidasi oleh murid-murid sedang menjelaskan pelajaran Matematika dengan tegang dan serius, tapi aku tak melihat Nadia, bangku yang biasa Nadia duduki hari ini kosong, aku mulai melirik ke penjuru kelas dengan hati-hati agar bapak Mamat tidak melihat gerak-gerikku, Tapi hasilnya nihil Nadia tidak duduk disudut mana pun. Mungkin Nadia benar-benar sakit.
            Kemudian aku berjalan meninggalkan kelas Nadia, sesampai aku diteras sekolah ternyata hujan turun membasahi bumi, dan aku kemilih untuk berteduh dulu diteras sekolah sambil memandang tiap tetesan hujan pikiranku melayang, memikirkan saat-saat aku masih bersahabat baik dengan Nadia. Aku masih ingat saat Nadia memukul anjing tetangga komplek sebelah dengan kayu karena anjing itu mengejarku sewktu aku pulang dari sekolah, dan mulai hari itu kami berteman dan sering bermain bersama, Nadia teman pertama aku sewaktu SMP dulu saat teman-teman aku yang lain mengejekku dan mengata-ngatai aku cupu, namun Nadia malah dengan santai mau berteman dengan aku, dan mengajari aku membuat layang-layang, untuk pertama kalinya aku bisa membuat layang-layang hari itu. Nadia anak perempuan yang bisa aku bilang tomboy dan cuek dengan penampilan, aku pernah melihat Nadia bermain bola dengan anak laki-laki dalam keadaan masih memakai baju piyama.
            “kamu kenapa melamun jonn..?” tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku. Ternyata itu adalah suara Rania salah satu anak culun yang ada disekolah ini, dan Rania ini satu kelas sama Nadia. “eh, kamu Ra..hhmmphh…Nadia hari ini engga masuk sekolah ya?”. Mumpung ada teman satu kelas Nadia sekalian aja aku tanyain, meskipun aku tau kalau Rania akan menjawab dengan jawaban lebih banyak tidak tau ketimbang taunya. “bukan Cuma hari ini Jon, Nadia tidak masuk sekolah tapi sudah satu minggu dia absen dan tidak ada kabarnya” kata Rania. Ucapan Rania mengagetkan aku sebenarnya apa yang terjadi dengan Nadia, semenjak dia berteman dengan “genk cubietus”, sebuah genk anak-anak gaul yang hobby menghambur-hamburkan uang orang tua mereka untuk hal-hal yang sama sekali tidak penting, tiap malam kerjaannya clubbing di discotik bintang lima, dan teman-teman seperti itu lah yang dijadikan Nadia sahabatnya.
            Setelah berbasa-basi sedikit dengan Rania, aku pamit untuk pulang duluan. Sambil mengendarai motorku rintik-rintik hujan kecil menetes membasahi kaca helmku. Aku masih berfikir didalam benakku kenapa Nadia tidak kesekolah selama satu minggu. Dan aku putuskan hari ini aku akan kerumah Nadia untuk mengetahui kondisinya, meskipun resikonya dia akan mengusir aku sama kaya seperti dulu. Aku bahkan tidak pernah lupa kata-kata yang Nadia ucapkan waktu aku kerumahnya untuk menengoknya yang sedang sakit, “ngapain loe ke rumah gue?dasar anak culun gak gaul,keluar loe sekarang” kalau kata-kata itu aku ingat rasanya bulu kudukku meremang. Aku tidak mengerti sebenarnya apa salah aku?, apa hanya karna aku culun dengan kacamata besar dan tebal? Mungkin Nadia malu berteman dengan aku, aku sadar semua kekurangan aku dan mungkin Nadia pikir aku tidak selevel dengan Nadia yang cantik.
            Tanpa aku sadari aku sudah memasuki gerbang komplek perumahanku setelah tikungan, aku akan sampai dirumah, namun tiba-tiba sebuah mobil polisi dengan sirine yang mengaum-ngaum memecah keheningan jalanan di sekitar komplek rumahku, dengan kecepatan tinggi mobil polisi itu memasuki tikungan menuju rumahku. Karna rasa penasaran aku pun ikut memacu motor tuaku memasuki tikungan rumahku.
            Dan betapa terkejutnya aku melihat kenyataan ini, ternyata mobil polisi itu berhenti dirumah Nadia yang bersampingan dengan rumahku, tak hanya mobil polisi tetapi juga ambulance juga berhenti dan parkir dihalaman rumahku, rumah Nadia digerumungi oleh tetangga yang penasaran dengan apa yang terjadi disana, kemudian aku melihat ibuku yang sedang berbicara dengan polisi, aku melihat raut wajah ibu nampak kebingungan. Dengan cepat aku parkirkan motorku di samping rumah dan berlari kerumah Nadia. “jam berapa ibu ke rumah Nadia?” kata seorang polisi kepada ibu, kemudian ibu menjawab “jam 12 siang pak, saat saya ingin mengantarkan makanan untuk Nadia, karna dia cuma sendiri dirumah” kata ibu menjawab pertanyaan polisi. Tidak beberapa lama kemudian aku melihat petugas rumah sakit membawa tandu yang berisi tubuh yang di tutup dengan sprey berwarna putih. Ibu memelukku sambil menangis, saat itu aku masih kebingungan sebenarnya apa yang sedang terjadi, sesaat berlalu ambulance yang membawa mayat itu pergi meninggalkan komplek kami menuju rumah sakit.
            Keramaian dirumah Nadia mulai sepi saat mobil ambulance dan mobil polisi meninggalkan rumah Nadia, dan aku membawa ibu pulang untuk menenangkan kondisi ibu. Setelah ibu mulai tenang ibu bercerita, dan betapa terkejutnya aku saat mendengar semua cerita ibu yang siang itu ingin mengantarkan sub jagung untuk Nadia, dan sewaktu mengetuk pintu ternyata tidak ada sahutan dari dalam, dan saat itu ibu memberanikan diri untuk membuka pintu rumah Nadia ternya tidak dikunci. Ibu berfikir bahwa Nadia sedang tidur dikamar dan ibu bermaksud untuk membangunkan Nadia. Ketika ibu membuka kamar Nadia, ibu melihat Nadia membujur kaku dengan busa dibagian mulut, di sekitar Nadia berhamburan obat-obatan, segeralah ibu menelpon polisi.
            Keesokan harinya pukul 07.00 iring-iringan ambulance datang kembali, kali ini ambulan datang dengan iringan mobil mewah yang aku bisa tebak itu adalah mobil keluarga Nadia. Nampak sebuah peti berwarna merah marun diturunkan dari mobil ambulace, di sertai tangisan histeris seorang wanita yang kira-kira berusia 35 tahun, itu adalah ibu Nadia. Aku, ibu, dan kakaku bergegas kerumah duka untuk mengucapkan rasa duka, ibu Nadia dalam tangisnya bercerita bahwa Nadia OD (over dosis) karna mengonsumsi obat tidur, selain itu juga hasil outopsi membuktikan bahwa Nadia mengonsumsi Narkoba. Ibu Nadia meminta kami untuk menyembunyikan kematian Nadia yang bunuh diri tapi aku rasa semua tetangga tau melihat kenyataan yang ada. Para tetangga, teman-teman sekolah Nadia mulai berdatangan untuk memberi penghormatan terakhir pada Nadia. Pukul 14.00 jasad Nadia dimakamkan dipemakaman umum dikomplek kami. Suasana pekat duka dan haru melepas kepergian Nadia, bahkan ibu Nadia sampai jatuh pingsan saat jasad Nadia dimasukkan kedalam tanah,.
             Sehari setelah pemakaman Nadia, keluarga  Nadia memutuskan pindah rumah dan menjual rumah mereka dengan alasan, mereka ingin mengganti suasana baru, ibu Nadia juga kerap kali merasa Nadia berjalan-jalan dirumah mereka, hal itu membuat ibu Nadia kembali bersedih. Kematian Nadia secara tiba-tiba memang membuat semua orang yang mengenal Nadia terkejut, kematian Nadia yang terbilang cukup muda membuatku semakin sadar betapa bermaknanya hidup ini, jika hanya untuk hura-hura. Perjalanan hidup masih panjang bahkan jalan kesuksesan dalam hidup belum aku tapaki. Nadia akan tetap aku kenang sebagai sosok teman dimasa kecil yang istimewa, meskipun ketika kami sama-sama besar Nadia menjauhiku, tapi aku tetap menganggap dia temanku. Sebenarnya Nadia adalah anak yang baik hanya saja pergaulan membuat dia tersesat dan tak bisa menemukan jalannya kembali.
Nadia terima kasih atas kebaikanmu dimasa kecil kita…
            Semoga kamu damai disana….

Share this article :

1 komentar:

  1. Hallo Guys Kini Situs judi Online SahabatPoker Hadir dengan Permainan Baru yaitu Bandar 66 Online
    adalah sebuah game kartu 66 permainan bandar online terbaru yang di liris atau lauching di situs SahabatPoker, game Bandar 66 online menjadi game yang sangat populer di kalangan pecinta judi online, karena game ini sangatlah mudah untuk dimainkan, cara main cukup mudah karena permainan ini hanya menggunakan 1 buah kartu di tangan anda, anda hanya tinggal menjumlahkannya saja.

    BalasHapus

Jangan Lupa Tinggalkan Pesan Ya

 
Support : Creating Website | Johny Template | Pondok Huruf Sastra
Copyright © 2013. Pondok Huruf Sastra - All Rights Reserved
Template Modify by Ahmad Riduan
Proudly powered by Blogger