Breaking News :

logo

Home » » kumpulan puisi Rina faradila

kumpulan puisi Rina faradila

Jumat, 16 Mei 2014 | 0 komentar

 

JENDELA HUJAN

(untuk ayahanda di balik singkapan langit)


“jendela itu akan terbuka seiring tetesan hujan
Yang membawa sayu cerita”
Ucapan yang terdengar sayup  membawa seiris keyakinan
Dingin ini adalah rindu yang tertampung di dalam belanga kasih
“ hujan akan menyemai kerinduan dari balik genteng rumah kita
Dan akan hilang bersama gerimis yang tersisa”
Suara lirih tenang menyakinkanku bahwa kau akan hadir
Menjelma tetesan-tetesan hujan yang tenang
Menyelimuti bagian rindu dengan mantel dingin bening
“apakah kita akan bertemu jika aku menunggumu
di bawah hujan hari ini?”
kali ini aku berucap sambil menatap langit mencari singkapan yang kau sebut  jendela
aku, hanya merindukan tarian hujan yang merintik di sela candamu yah..
sementara musim terus saja berganti
haruskah kembali aku nanti musim panas
agar aku temui hujan ini lagi
“bukankah kita berjanji akan saling
Menunggu di Altar kerinduan yang memuncak”
Suara lirih terdengar dan  hujan berhenti, matahari kembali
Aku mulai tak mengerti arti dari ini
Sebab hujan hanya meninggalkan sisa genangan air di tangga-tangga langit sore
Sementara kau tak kunjung menyapaku dari balik singkapan langit
kau hilang bersama tirai-tirai pelangi yang aku yakini hujan ini nanti kembali
 Banjabaru, 18 februari 2014
(dimuat pada Antalogi "Cinta DIBALIK HUJAN") 


HAI MALAM

Hai malam
Bolehkah aku menyusuri udara dingin
Menyemai rindu yang tak ingin berbagi
Hai malam
Sampaikan salam kasih pada bulan yang redup
Meninggalkan matahari yang selalu pilu
Hai malam
Aku lupa pada embun tadi pagi yang menyapa di sisi daun
Malu-malu tak berkelabu...
Hai malam
Aku sedari tadi manabur janji
Pada padi yang merunduk gagu
”maaf, aku masih layu dalam ciuman angin tadi sore”
Padi tergagu menghitung ragu dalam hati
Hai malam
Aku takkan lagi bernyanyi semu
Sebab kini, gagu tak lagi malu dan malu tak lagi ragu
Malam....
Kau takkan paham soal cinta yang tak berirama membelai hati
Karna soal malam takkan sama dengan cinta yang masih ranum
Terseret angin yang menebarkan bunga dan daun tadi sore
Dan cinta mempesona menepiskan padi malam
Yang layu terbuai angin timur semu tak berbunyi...
Salam malam...
Bisu.

 JEMARI HATI

Tidakkah kau lupa, atau masih kau ingat
Pagi ini kau memanggilku
Dalam kerinduan yang tak terkira
Lalu kita bercinta dalam selimut rindu
Menghabiskan rindu yang tersisa
Hingga kini guratan langit jingga mulai lenyap
Malam mulai menyapa
Tiba dimana kau harus kembali keperaduan
Menyelam mencari arti sebuah perjuangan
Tak banyak yang ingin aku ucapkan
Hanya sebatas kalimat haru
Untuk pengobat rindu...
Kini aku akan menunggumu lagi
Dengan memejamkan mata dan mengingat aroma parfummu
Suatu saat akan tiba dimana aku takkan menunggumu lagi
Aku takkan menunggumu mencari arti sebuah perjuangan

tapi aku akan bergabung bersamamu dalam sebuah perjuangan
kita akan bersama-sama menembus batas cakrawala
dalam jemari jemari yang bersatu

oh ya, .. 
akan aku kalahkan merpati
dalam hal kesetiaan
hingga kau datang memberiku sayap sayap
akan aku ubah kemarau menjadi hujan
dan akan aku ganti bintang menjadi kita

dalam bait-bait cinta
aku tulis ini dengan sejuta harap
menanti untuk kembali
memeluk dan mencium kening ini

ANAK PINAI
Langit jingga menapaki sunyi
Lembah hijau menabur debu
Memuntahkan ribuan peluru
Menghanguskan jutaan nafas kemiri

Anak pinai berlari dalam hujan
Matanya sembab dengan sunting senyum
Kelucuan ini tentang peluru
Yang berbentur dengan jingga sunyi 
Sementara suara dentum terdengar
Mengalahkan suara bisik

Anak pinai terus tertawa liar
Mencari kelucuan suara denting
Walau lembah hijau menyalakkan mata
Dia tetap liar memegang hujan
Mencari badai
mencari peluru

Geram lembah tak mampu
Menghunus asap apek
Dan kini siap menghambur debu
Suaranya terbentur bising kota
Matanya kini menyerupai laut
Sampai ia tak tahu mana arah jalan pulang berikutnya

Banjarmasin 2013
                                                                 konstribusi buku antologi PHS (karena cinta itu manusia)

HITAM MAWAR
-perempuan black market

Aku menulis ini diantara runtuhan puing-puing
yang memisahkan jarak dan waktu

Saat laut menjadi tujuan
Saat daratan  menjadi harapan

Aku menyusuri titian gelap
dengan setetes harapan
lalu berlari dengan sejuta derai air mata

Tidakkah kau tahu
Saat sebias luka tercabik
dan sakit tertahan
aku hanya memeluk kenangan
Saat orang-orang berkata
 “kau akan mendapatkan matahari di seberang sana”
Aku hanya mampu menghitung warna
mawar yang tak lagi mempunyai merah

diseberang,
aku mendengar lagu yang mengisahkan
Gelombang yang menjadikanku hitam !
Dalam kekelaman
Aku di kembalikan dari jalan gelapku
Namun, aku tetap menjadi mawar hitam
Tanpa harapan !

Banjarmasin, 2013

KAU MUNGKIN TAK PERNAH TAHU

Kau takkan tahu aku berkata apa
Meski aku terus mengeja
Mengucap setiap huruf
Kau takkan tau kataku apa

Ini tentang sebuah nyawa
Yang mulai mencium pedang malaikat
Ini tentang sosok beraga
Yang tak tahu sosok terikat

Apa kamu tahu?
Mungkin saja kita akan mati terikat
Kita hilang di ikat waktu
Lalu sunyi dan diam dalam gelap

Kau kira aku berkata apa?
Sebuah nyawa, kematian atau ikatan
Tidak, dari tadi aku tidak berkata apa-apa

Tapi ini tentang kita
Yang mulai tersengal dalam gelap
Mati dalam ikatan
Lalu lenyap dengan dua sayap

Kita hilang dimakan waktu
Tanpa menoleh untuk sampai jumpa

Banjarmasin Oktober 2013

 KITA
Malam kini menuai rindu
Untuk cinta diujung malam
Hanya rasa yang bertaut
Atas rindu menghampar kasih
Membelai dinding fatamorgana
Merekah dalam rasi bintang
Aku dan kamu masih sama
Dalam hal mencari rasa

Kita berjalan diantara simpangan asa
Hanya senyum penyemangat kita
Atas cinta yang tersimpan, “aku masih utuh”
Itulah nyanyian hati kita
Dalam menanti perburuan waktu
Inginku membiarkan kau berlari dengan kudamu
Rapuh asa menentangku, menarikku dalam rindu

Aku ingin kau tahu tentang cerita jingga menanti malam dan menyambut pagi
Lirihnya taka da yang tahu, karena ini tentang setia
Ini tentang kita, yang menanti bintang jatuh dicakrawala
Banjarmasin 2013

KISAH SECANGKIR KOPI
Kuminum kopi duka pada secangkir rindumu
Pada pagi yang mendatangkan jingga
Dalam bait-bait kasih cinta
Menceritakan tentang  embun bersayap
Yang kini terbang jauh
Melintasi guratan cakrawala

Kuhirup secangkir kopi pekat pada secangkir lara
Beraroma cinta dan kasih yang tak nyata
Banjarmasin 2013
           
 HAKIKAT KUE

Ini tentang kue, kuelam atau kueming, bisa juga kuemu, kueku mungkin saja kuekita. Gula gurih, keju manis dan butter lumer, lelehan coklat layaknya sungai asmara terasa apek namun syahdu. Tak lupa butiran almound yang membuat renyah.
Kerinduan ini tentang sepotong kue
Kue harapan yang mampu aku buat
Dengan sejuta better cinta
Dengan ratusan mentega rindu
Berwarna pelangi dan jingga
Beraroma vanila bibirmu

Sepotong kue untukmu
Kutitipkan pada angin dan embun
Kusematkan pada sepasang kaki merpati
Kusemaikan pada aliran sungai saat rindu

Bersamanya kau pergi
Pada harapan sepotong kue
Pada warna yang sama-ama kita hias
Semua tertanam sebuah harapan

Kau tahu?
Aku masih membuat kue itu
Namun takkan pernah sama
Sebab sebelahnya cuma ada  kerinduan
Yang selalu percuma tentangmu

Banjarmasin 2013

 KISAH YANG SEHARUSNYA

Sahabat...
Bagaimana kau meniti bulan?
Saat bintang menghalangi wajahmu
Bagaimana kau bermain rasa?
Saat rapuh menghancurkan senyummu

Sahabat...
Apa kau ingat?
Tentang sengalan nafas kita
Yang berjalan mengutuki tanjakan
Dan menyanjung para ilalang
Sementara sepasang anak pipit
Beradu rasa pada ranting pohon
Kita hanya memandang haru
Dalam singkapan sajak-sajak langit

Sahabat...
Embun merah kini berubah warna
Dia tak lagi merah melainkan gelap
Seiring kita yang tak lagi sama
Meski tetap menyumbang warna
Bukit-bukit merintih
Para ilalang menangis
Dan kita tak mampu memberi air
           
Sahabat...
Masihkah kau mau bernyanyi
Bersama semioka angin?
Masihkah kau mau berjalan
Dibawah payung-payung daun?
Dan masihkah kau mau berpegangan denganku
Mencicipi warna pastel yang banyak mengendapkan kisah?
           
Sahabat...
Bagaimana kalau kita  bermain sabun
Meniupkan gelembung keudara dipetang hari
Dan membiarkannya terbang melintasi warna jingga
Besok jingga akan hadir kembali
Yang akan memandu kita
Agar mereka tak lagi gersang
Agar mereka kembali menuai senyum
Diatas subur bibir kita
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Pesan Ya

 
Support : Creating Website | Johny Template | Pondok Huruf Sastra
Copyright © 2013. Pondok Huruf Sastra - All Rights Reserved
Template Modify by Ahmad Riduan
Proudly powered by Blogger