Breaking News :

logo

Home » » kumpulan puisi syarif hidayatullah

kumpulan puisi syarif hidayatullah

Minggu, 18 Mei 2014 | 0 komentar


HUKUM EKONOMI
Kala rumus di basuh hujan
Dalam pasir pasar bebas
Makro dan mikro jadi pembelajaran
Dalam aspek hukum akuntansi

Lilitan dodol di kertas buram
Menggantung mangga di pohon pisang

Sebuah hukum di asumsikan angka
Pada mimpi belalang sawah
Berceloteh kata tanpa rumus
Dongkol hati di atas samudera

Mencari harta di negeri orang
Tanah sendiri di sewakan
Meminum keringat majikan
Akhir bersembunyi di bawah jembatan

Kalian tahu ini hukum
Tapi kenapa kredit dan debit
Tak pernah selesai di asumsikan

Sa’at ekonomi berkata Islam
Maka manajemen berbasis syariah
Hukum ekonomi tanpa bunga
Tapi untung sama untung

Marabahan, 30 September 2013

MAHKOTA BERKARAT

Media masa kembali berkata
Jeritan anak pendidikan
Tentang musang memakan anaknya
Serta elang mencengkram telurnya

Masa remaja di perjual-belikan
Dalam buaian mawar hitam
Kupu-kupu tanpa keindahan

Betapa rendahnya derajat ini
Mahkota raja di jaja di pinggir jalan
Atau di pajang di hotel berbintang
Kadang mereka menangis
Atau tersenyum sa’at uang berbicara

Dentingan waktu perlahan mengikis
Kedok hitam berwajah putih
Pendidikan tempat maksiat
Tapi umur baru belasan

Kemanakah para kucing ?
Pemangsa tikus jalanan
Apakah kucing terbuai ikan !
Atau mati dikeroyok tikus !

Marabahan, 9 september 2013


SAYAP ITU TELAH PATAH
“Maaf”

Hujam kata air mata
Mengalir di musim kemarau
Dalam kepak kesetiaan

Hanya kata itu kau ucapkan
Berlalu tanpa peduli
Aku terbang hingga ke bintang
Kau patahkan impianku

Aku merpati tanpa sayap
Yang menyisakan kesetiaan

Hanya darah yang setia mengucur
Di sela jari sayap yang patah
Sedang mimpi terbawa angin
Untuk kembali denganmu

Banjarmasin, 28 agustus 2013


AKU DAN  PUISI
Bagai rimba dedaunan
Di tengah samudra berpasir putih
Terseok pasir yang menggulung
Di hempas lautan tak bertepi

Semua pergi  dalam lantunan waktu
Beranjak dari kata dan huruf
Sebuah kalimat yang tak sempurna

Di malam gelap
Bagai langit tak berbintang
Kunang-kunang tanpa keindahan
Hidup di hempas dedaunan

Inilah aku
Sebuah puisi yang tak selesai
Di tinggal huruf
Di pisahkan kata

Banjarmasin, 17 september 2013


METAMORFOSIS
Hidup dari merangkak
Perlahan berjalan dengan pasti
Hingga kuat kaki pun berlari
Hukum alam dalam kehidupan

Menangis di sekolah dasar
Sedikit nostalgia menengah pertama
Sayap mengembang di sekolah menengah atas
Hingga terbang pada masa pamplet kuliah
Metamorfosis masa remaja

Mahasiswa gelar tertinggi
Sekolah rakyat dengan perut yang melilit

Baju lusuh sepatu bertali
Tas hitam ke abu-abuan
Berjalan antara mesin dan debu
Malam bekerja untuk biaya esok hari

Perantauan anak miskin
Ke kota mencari ilmu
Dengan hakekat tak pandang menyerah

Ulat berbulu menjijikkan
Di singkirkan dari peradaban
Orang miskin terabaikan
Dengan tikus di kolong jembatan

Ingatlah…….
Kupu-kupu dengan segala keindahan
Metamorfosis dari ulat yang menggelikan

Banjarmasin, 12 september 2013

SENJA DI UJUNG PULAU

Aroma asap pedati
Gemerincing bayangan semu
Terdengar rantai kursi roda
Bergesek zaman peradaban

Tumpukan kayu mulai menghitam
Di tumbuhi jamur kemalangan
Tanah ini, semakin kering
Sa’at hujan tornado melanda

Aku terpaku di tepian waktu
Kolam ikan terlihat bangkai
Sedang hutan semakin gundul

Mentari senja peradaban
Di sisa waktu tadi pagi

Inikah tanahku…..?
Sa’at kemerdekaan alunan nada selalu bergema
Dari pelosok tepian kota

Dalam bingung aku bertanya ?
Sudahkah kita merdeka ?
Sa’at darah di tumpahkan

Tubuh ini semakin merah
Di bungkus kain berwarna putih
Akankah bangkit kembali
Kata merdeka di kemudian hari

Banjarmasin, 20 agustus 2013

KOSONG

Kehampaan dalam hidup
Menyeret waktu terhadap dosa
Kenikmatan dosa menceburkanku
Pada lubang kesengsaraan

Angan-angan masa depan
Mimpi anak  di  siang bolong
Adakah malam untukku besok pagi
Terbayang lesu wajah orang tua

Berilah aku ampunan
Sebelum malam menelantarkanku
Berilah aku ke ma’afan
Sa’at sesal ku ucapkan
Berilah aku peta kehidupan
Sebelum hutan menyesatkanku

Hari yang suci ku nodai dengan hitam
Kini aku terkantung-kantung
Di ruang hampa kekosongan

Ini malam semakin kelam
Tiada rembulan dan sang bintang
Langit kosong coretan hitam
Mentertawakanku dengan kesombongan

Sebelum pagi membangunkanku
Astagfirullah ku lantunkan malam ini
Air mata sebagai saksi

Banjarmasin, 13 agustus 2013

ILUSTRASI PELANGI MALAM

Saat senja lucuti matahari
Aku berdiri di atas rumput yang bergoyang
Angin malam perlahan datang
Di atas lampu perempatan jalan

Bisikan elang menangis pilu
Melihat ayam menari-nari
Dalam mimpi si anak srigala
Ada domba dalam cengkraman
Tapi asa terselip kenangan

Ilustrasi singkat widuri malam
Dalam senyum penuh keterpaksaan
Kecantikan sebuah kutukan
Sedang kejelekan tercampakkan

Malam ini hujan turun
Di balut tangis penyesalan
Dalam tambat kata-kata
Air mata sebagai bukti
Karena pelangi telah di ujung senja
Banjarmasin, 8 juni 2013

ADA REMBULAN PADA SENYUM PAGIMU

Kulihat ada rembulan di balik kelopak matamu
bersama ombak dan angin
mensketsakan segala pagi hari
Yang berlari mencari keringat embun

Lambaian kupu-kupu
Mengintip di sela ranting daun
Yang berhembus di antara kepulan teh
Atau kopi pagi hari

Ku hirup sisa-sisa embun daun
Mengalir di kali dadaku
Bermuara pada senyum bibirmu

Kasih, kau warnai senyum hariku
Dengan pelangi berjuta warna
Pada kasih sayangmu

Banjarmasin, 10 oktober 2013



IBU, DALAM MALAMMU
Linanngan itu masih terlihat jelas
Ucapan malu di dalam hati
Hanya sekedar apa kabar ?

Apa kabar ibunda ?
Rembulan itu di kaki langit
Dongeng masih di perdengarkan
Di balik bantal guling

Ibu: mimpi itu,
Antara kuningnya daun yang berguguran
Di terpa angin tak bermesin

Sajak rindu kata-kata
Berbaris antara bibir dan pena
Mentertawakan bunga kuncup
Kupu-kupu tak berwarna

Akhir rindu anak perantauan
Masa kecil ada cerita
Di tengah malam ada air mata
Banjarmasin, 5 september 2013

MIMPI RAKYAT

Kapankah padi rajai dunia
Sedang singkong tak  pernah di tanam
Pohon menjulang di robohkan
Tapi harga tak masuk di akal

Kami menjerit dalam geram
Hati menangis dalam kata
Di  permainkan si anak angsa
Sebab elang tak punya cakar

Kemegahan yang hanya mimpi
Kebahagiaan yang sungguh fana
Karena tersimpan dalam saku celana

Banjarmasin, 12 juni 2013

SAJAK PADA BULAN
Sajak ini kutulis tengah malam
saat rimbun daun
Menjatuhkan embun disela mataku
“ada yang indah”

Sapaan bintang pada rembulan
Dikikis angin aurora
Bagai limun tanpa di peras

Rinduku pada rembulan
Pada pasang-surut gerhana
Tanpa pantai di  rayu ombak

Banjarmasin, 1 September 2013


JALAN PUISI

Merah jingga di atas kuning
Menghirup senja di perjalanan
Aroma aspal mulai menguning
Menyesakkan rumput ilalang

Ini puisi jalanan
Secarik kertas pengharapan
Bersama tumpukkan aspal gorengan
Di injak tapi di harapkan

Sinar jingga ke peraduannya
Dalam tarian ilalang alang-alang
Puluhan buruh mengais aspal
Mencari serpihan nasi

Aku termenung
Di atas angin yang menggerakkanku
Dengan lambaian manja si kupu-kupu
Ini bangsa punya siapa ?
Kenapa orang menjadi buruh di luar negeri ?

Di persimpangan empat penjuru
Ada jembatan pengharapan
Nenek tua tanpa selimut
Tertidur nyenyak pada mata yang sayu

Ini puisi anak jalanan
Mengalir tanpa air
Hanya air mata yang terus mengalir

Handil Bakti, 29 September 2013

Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Pesan Ya

 
Support : Creating Website | Johny Template | Pondok Huruf Sastra
Copyright © 2013. Pondok Huruf Sastra - All Rights Reserved
Template Modify by Ahmad Riduan
Proudly powered by Blogger