Breaking News :

logo

Home » » puisi widya astuti

puisi widya astuti

Jumat, 16 Mei 2014 | 0 komentar



Pengkhianatan tanpa aba-aba

Dirinya..
Bercuap-cuap manis
Bak caleg yang mengubar janji
Namun tiada bukti

Aku Terperangkap
Dalam lingkaran dusta
Aku Termakan
Oleh Koar-koar kata nista

Sesal yang tiada arti
Tinggal luka dipalung hati
berbonus duka
Namun tak berdiskon suka

Dirinya..
Penjahat tanpa senjata
Cukup menggandeng orang ketiga
Matilah rasaku yang tersaji dalam cinta

Pengkhianatan tanpa aba-aba
Tepat menusuk dijantung hati
Kini ku lemah kini ku kalah
Dibuang seperti sampah

Dimuat dalam buku antalogi anak PHS yang berjudul Karena Cinta Itu Manusia

Penantian diteluk Senja

Tuan...
Diteluk senja, bayangmu masih jelas terlihat
Imajinasiku menembus dimensi gelap
Hingga hati berbicara, kau kah itu?

Aku terpesona, Dipertengahan malam minggu kala itu
Sosok yang lalu lalang didepan mataku
Kini tengah melekat pada dinding kalbu
Seperti karatan debu yang tak mau disapu

Tuan...
Aroma mawar tak kunjung hilang meski layu
Melekat dan tertanam berwindu-windu
Seperti rindu ini yang selalu ingin bertemu


Aku canggung, kala takdir meraung
Bak putri malu terkena sengatan
Tersipu malu saat jarak sejengkal
Bias rasa menjelma hanya lewat mata

Tuan...
Rinai hujan masih menyelimuti keberadaanku
Ku mohon Bersabarlah menunggu
Karena Pelangi tiba, sebelum sampai diteluk senja.

 lokal 5 pmtk, september 2014.

Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Lupa Tinggalkan Pesan Ya

 
Support : Creating Website | Johny Template | Pondok Huruf Sastra
Copyright © 2013. Pondok Huruf Sastra - All Rights Reserved
Template Modify by Ahmad Riduan
Proudly powered by Blogger